(Tadinya saya ingin menuliskan tulisan ini di note facebook, tapi saya khawatir kawan-kawan terganggu. Ingin ditaruh di blog, tapi entah masih ada yang mau baca entah tidak. Akhirnya saya tuliskan di message saja)
Kepada : Pemilik Doa yang Teguh
Kepada : Pemilik Doa yang Teguh
“dam ente nulis deui atuh!”, kata Arya di sela-sela perbincangan kami.
Saya juga mengakui bahwa di 3 semester ini saya tidak produktif menulis. Baiklah untuk mengawali kembali saya ingin menceritakan sekelumit kisah di 2014 ini. Ya mungkin tidak seperti tulisan Arya yang sangat tajam, tidak seperti tulisan cerdas seorang Igar, tidak seberwarna tulisan Rini, dan tentu saja tidak semenarik FF buatan Nevi uchuld.
2014 ini memang sangat fenomenal bagi saya. 2014 mengakhiri semester “neraka” dari jurusan Teknik Geologi Undip yang katanya membuat mahasiswanya lupa mandi, lupa makan bahkan lupa tidur. Januari, kami sibuk dalam mempersiapkan ujian dan segala pertanggungjawaban organisasi. Beberapa teman ada juga yang sibuk untuk mempersiapkan pelantikan mahasiswa baru, maklum Undip masih kental dengan yang namanya kaderisasi mahasiswa baru. Saya pribadi sedang selain mempersiapkan ujian juga sibuk mengurusi tahap akhir Pemilihan Raya Undip dan LPJ Rohis Jurusan.
21 Januari 2014 adalah hari dimana Rohis Jurusan saya yang dikenal dengan nama Rohis Nurul Ardli melaksanakan suksesi. Suksesi ini meliputi pembahasan AD/ART, LPJ satu tahun kepengurusan dan juga pemilihan ketua baru.
Innalillahi Wa’inna Ilaihi Rajiuun.. amanah itu datang secara tiba-tiba. Rasanya memang berat sekali, saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk mendapat amanah ini. Bawaannya di pikiran saya kalau jadi ketua Rohis itu orangnya harus tenang, sholeh, senantiasa menjaga pandangan, hafalannya banyak, qiyamullail nya tidak pernah tertinggal. Dan itu memang belum ada pada diri saya. Ditambah lagi jurusan saya yang memang memiliki kultur yang sangat berbeda dengan jurusan lain pada umumnya. Ya tapi saya lihat kembali kawan-kawan di depan saya, ada sebuah harapan tersirat di raut-raut wajahnya. Itulah yang membuat saya kembali semangat. Acara pun selesai kemudian kami makan bersama sebelum pada akhirnya kembali ke kontrakan sekitar jam 10 malam.
Keesokan harinya saya mendapat tugas menjadi Master of ceremony di acara pelantikan BEM KM UNDIP 2014-2015. Disana badan saya sudah merasa lelah sekali dan ingin pulang saja rasanya. Saya sabar untuk menunggu hingga acara selesai dan akhirnya izin pulang tanpa ikut pembubaran.
Setibanya di kontrakan saya langsung tergeletak di tempat tidur, kepala terasa berat sekali, dan suhu badan mendadak tinggi. Benar saja ini kali kesekian saya sakit di perantauan. Terakhir saya sakit ketika SMP di Bumi Kitri Bandung, untung di sana guru saya setia mengurusi saya. Dan sekarang saya bersyukur 3 orang yang masih tersisa di kontrakan dengan sabar merawat saya. Saya tidak tahu apa penyebab dari sakit ini, apakah karena kecapean, apakah karena amanah saya periode ini sudah tuntas semua, apakah karena amanah baru yang akan saya emban satu tahun ke depan, atau apakah karena saya memang ingin pulang ke rumah hehe. Tapi Alhamdulillah saya bisa sembuh kembali setelah sakit selama seminggu lamanya.
Sedikit kecewa dengan kebijakan bahwa Musyawarah Mahasiswa diadakan pada tanggal 3 Februari 2014, dan akhirnya saya kembali menunda jadwal pulang ke kampung halaman.
Seperti biasa kepulangan kali ini kembali dilakukan secara mendadak, setelah rangkaian Musma selesai, saya sibuk menghubungi beberapa orang untuk menanyakan kesiapan masuk kabinet saya satu tahun ke depan. Dan setelah semua selesai, saya kemudian menanyakan kepada teman saya.
Adam: “Men, kalau malam ini saya pulang gapapa? Ente bisa anter kan?”
Bayan: “Ya, Insya Allah, ayo dam mumpung lagi ada motor nganggur.”
“Biarkan aku pulang, aku hanya terlalu jauh dari tempatmu berada.”
Inilah yang kemudian saya istilahkan dengan
“Pergi demi cita, Pulang demi cinta.”
Alhamdulillah akhirnya saya bisa pulang juga, setelah sekian lama menjadi mahasiswa semester neraka yang subhanallah sekali. Entah turun berapa kilo berat badan saya, hahaha.
Tiba di Tasikmalaya jam 6 pagi dan saya menyempatkan dulu untuk shalat shubuh di SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya. Inilah Tasikmalaya…
“Akhirnya kita kembali ke tempat dimana langkah pertama diayunkan
Masa kecil yang putih dimana kenangan-kenangan mulai diciptakan.”
Saya kembali meneruskan perjalanan saya untuk menuju ke rumah tercinta. Ibu pun kaget karena saya tidak sempat bilang terlebih dahulu kalau mau pulang ke rumah.
“Dulu ibu pernah datang memeluk ciumku, membeli segala keterpisahan kita dengan segenap cinta.”
Hanya beberapa jam saya di rumah sebelum pada akhirnya saya harus berkeliling sekolah untuk mempromosikan Undip di Tasikmalaya. Allahu Akbar!!
Sesungguhnya kepulangan saya kali ini, saya ingin menyerap semua energi yang hilang. Energi yang kemudian tenggelam dan tidak saya temukan lagi ketika kuliah di Semarang. Saya ingin merasakan kembali hangatnya dekapan Ibu yang senantiasa memberi semangat ketika down. Ingin kembali ke SMA, merasakan sebuah nuansa perjuangan. Dulu saya pernah menjadi seorang Ketua OSIS disini, yang seharusnya menjadikan saya lebih yakin bahwa amanah saya ke depan pasti bisa saya lalui. Ingin kembali bertemu guru-guru, sahabat-sahabat yang melengkapi arti sebuah perjuangan.
“Hari-hari saat aku bersamamu sahabat
Telah lama waktu yang kita lewati bersama
Kusadari masa itu masa-masa terindah
Dalam sukaku dalam dukaku
Engkau selalu ada.”
Ke depan hari-hari akan semakin menantang. Dan saya perlu energi-energi positif untuk melewati ini semua.
9 Februari adalah acara puncak dari acara Dipo Goes To Tasikmalaya. Try Out SBMPTN dan Seminar dari Kang Setia Furqon Kholid. Ya dengan segala keterbatasan, yang pada akhirnya saya yang diamanahi sebagai anggota divisi acara harus turun juga mengurusi sound system. Tapi Alhamdulillah acara secara keseluruhan berjalan lancar dan tanggapan dari peserta juga memuaskan.
Evaluasi kami selenggarakan di saung dekat rumah Afin. Alhamdulillah kami akhiri dengan perasaan bahagia.
Di sela-sela evaluasi tiba-tiba telpon saya berbunyi dan setelah saya lihat tertulis nama “Igar” mengirim pesan. Dan setelah saya baca beliau menyuruh saya untuk pergi ke Bandung esok hari. Jujur ini bukan keputusan yang harus diambil dengan cepat. Pertama, karena saya memang jarang sekli ada di Rumah. Kedua, saya tidak ingin ketika saya pergi ke Bandung, perasaan saya menjadi kacau. Maklum, bagi saya Bandung ini menyimpan banyak sekali kenangan apakah itu tempatnya, suasananya , ataupun orangnya. Saya tidak ingin mendadak galau karena datang ke Bandung.
Di perjalanan pulang dari evaluasi kegiatan saya berkontemplasi kembali, pada akhirnya naluri saya cenderung untuk berangkat ke Bandung.
Tiba ke rumah jam 9 malam, kemudian saya meminta izin kepada Ibu untuk berangkat ke Bandung dan Alhamdulillah diizinkan. Saya berdoa kepada Allah semoga ini adalah keputusan terbaik.
Keesokan harinya 10 Februari 2014. Saya berangkat dari rumah pukul 09.00. Dan luar biasa rasanya memang perjalanan panjang sekali. Saya baru tiba di Masjid Salman sekitar jam 2 siang. Dan akhirnya saya beristirahat di Mesjid Salman. Sengaja saya tidak kabarkan dulu kepada teman-teman karena saya bertekad ingin menyelesaikan dulu target tilawah saya.
Kembali Igar menelpon saya, karena sms nya tidak saya balas. Akhirnya saya mengirim sms kepada Igar dan Arya dengan tipe sms Pak In-in (Maaf pak), hehe, dengan satu kata “Salman”.
Selesai shalat Ashar saya berbincang-bincang sebentar dengan Arya sebelum memutuskan berangkat ke lokasi.
Saya dan Arya berkeliling-keliling dulu di lokasi mencari tempat pertemuan yang tepat dengan para gadis. Dan Alhamdulillah akhirnya kami berpapasan. Saya hanya melihat para gadis ini sekilas saja, hahaha Alhamdulillah yang penting mereka sehat. Ya kami memang merasa saling “pangling” satu sama lain. Hahaha Arya juga tumben katanya tidak memakai jahim kesayangannya (maklum euforia baru dilantik memang begitu, bukan?). Kami meneruskan perjalan dengan seksama. Dan kemudian tiba di studio foto. Ya saya kaget, kalau tahu sejak tadi mungkin saya akan menyiapkan kostum terbaik dan dandanan terbaik hahaha. Tapi...itu bukan menjadi masalah bagi kita karena
"Bersamaku kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam. Toh make up mu akan kalah oleh hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh nanti make-up mu akan hilang dibasuh wudhu. Sederhana saja kan lebih enak.
Bersamaku, kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu repot mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan. Sederhana saja kan lebih nyaman"
"Bersamaku kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam. Toh make up mu akan kalah oleh hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh nanti make-up mu akan hilang dibasuh wudhu. Sederhana saja kan lebih enak.
Bersamaku, kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu repot mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan. Sederhana saja kan lebih nyaman"
Ya kami akhirnya naik ke lantai dua, kemudian menyiapkan dinding terbaik, merapikan pakaian, dan akhirnya JEPRET JEPRET…. Mbak yang ungu di sebelah sini, mbak yang pink di sebelah sana, JEPRET JEPRET…Mas yang kotak-kotak kakinya agak naik, bergaya ciiss. JEPRET JEPRET.
Sesi foto selesai dan akhirnya kami menunggu hasilnya dan kami pun melihatnya satu persatu. Rasanya semua foto itu bagus, kami cukup kesulitan dalam memilih. Akhirnya kaum Hawa berkata, “Biar kami yang memilihnya, memilih ini butuh sebuah naluri keibuan, kalian duduk manis saja di kursi.”
Dan tiga foto terbaik sudah terpilih. Sesi JEPRET-JEPRET selesai.
Kita akhirnya mencari tempat untuk makan bersama. Saya hanya bisa ikut saja, maklum saya bukan orang yang tahu seluk beluk kota ini, meskipun dulu sudah 6 tahun lamanya saya bercita-cita kuliah di kota ini.
Kami berhasil menembak tempat yang menjadi tujuan kami, dan lekas naik ke lantai dua. Kami bertanya kepada pelayan, “Mana tempat paling ekslusif dan paling spesial di tempat ini?”
“Silahkan disini mas, mbak.”
Kami pun duduk dan memesan makanan. Lalu Igar berkata, “Pesan makanannya, makanan paling spesial ya, maklum ini kan yang bayarin mahasiswa yang sedang bahagia.”
“Oke bos”, kata arya.
“Kalau saya inginnya TO Rice, ada kan?”, tanya Nevi
“Oh tenang itu ada.”, kata Rini.
Kami selesai memesan makanan dan minuman. Dan seperti biasa kami saling mempersilahkan diri untuk bercerita terlebih dahulu.
Akhirnya Rini berinisiatif untuk mengatakan terlebih dahulu.
“Jadi gini, Alhamdulillah saudari kita dari keluarga cicurug kemarin sudah ada yang datang mengetuk pintunya dengan salam dan menyampaikan tujuan.”
“Alhamdulillah”, semuanya mengucap syukur.
Mendengar Rini saya cukup kaget, mengapa hal ini baru dikatakan sekarang? Hahaha. Bukannya apa-apa, jujur, Igar itu memang sudah cukup dekat dengan saya. Kami tiga tahun selalu duduk satu kelas, dia adalah orang yang paling bisa meyakinkan saya untuk maju jadi ketua OSIS, dia adalah salah satu bendahara terbaik saya, seorang inisiator yang cerdas, penulis yang baik, saya cukup nyaman jika berbagi dan berkeluh kesah dengan beliau dan dia jugalah mungkin yang paling tahu kehidupan saya di SMA.
Ya memang begitulah jodoh.
“Amanah tidak akan pernah salah memilih pundak, begitu juga cinta ia tidak pernah salah memilih hati.”
Alhamdulillah ya Gar akhirnya doamu terkabul. Doakan saya juga ya Gar J
Tapi saya tahu mengapa ini baru dikatakan sekarang
"Bicara tak selalu bisa menyentuh jiwa. Tidak selalu bicara bisa menawar segala tanya. Kadang diam jauh lebih bisa memberikan jawaban. Diam adalah salah satu bentuk bicara kan?"
"Bicara tak selalu bisa menyentuh jiwa. Tidak selalu bicara bisa menawar segala tanya. Kadang diam jauh lebih bisa memberikan jawaban. Diam adalah salah satu bentuk bicara kan?"
Ya memang begitulah jodoh
"Mudah bagi-Nya membuat dua insan kemudian bertemu. Tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya yang telah sama-sama dipanjatkan."
"Mudah bagi-Nya membuat dua insan kemudian bertemu. Tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya yang telah sama-sama dipanjatkan."
Lalu Igar kemudian tak ingin kalah, ia pun berkata,
“Sebenarnya Ayi juga sudah punya orang yang naksir lho, dia malah sudah datang ke rumahnya. Dia tanya-tanya aku kemarin rumah ayi dimana. Tapi sayang kemarin pas dia datang Ayi lagi diajakin keluargaku jalan-jalan. Aku jadi merasa bersalah L”
“Igar, mengapa mesti kaukatakan? Entah sejak kapan aku menjadi gugup seperti ini.”. kata Rini
“Tapi orangtuamu merestui kan?”.kata Adam
“Iya, setuju-setuju aja”, jawab Rini
#eeeaaaaaaaaa
“Iya sebenarnya ga enak juga dam menanti itu.” Kata Rini.
Dalam hatinya mungkin Rini berkata
"Teruslah mencariku karena aku tidak pernah sembunyi. Kamu hanya sedang menutup mata, sedang teralihkan perhatian. Teruslah mencariku karena aku akan duduk menunggu. Pada sajadah panjang yang membentang dari langit hingga bumi.
Aku tidak pernah sembunyi, kamu hanya tidak berani. Tidak berani datang hanya untuk mengenalkan diri. Tidak apa-apa. Aku akan menunggu dengan buku-buku ditangan. Dan lembar-lembarnya adalah waktu yang telah aku habiskan.
Jangan pernah lelah mencariku, karena aku tidak pernah kemana-kemana. Kamu hanya perlu membuka diri, melihat dengan mata hati."
Rini ini adalah orang yang dulu mungkin sering kena marah oleh saya karena buku sakunya (maaf ya ayi, hehe), dia memiliki suara yang paling baik diantara kami, dialah orang yang punya kepekaan yang cukup tinggi diantara kami sehingga kadang sering menjadi penetralisir keadaan, hehe. Terima kasih ayi.
"Teruslah mencariku karena aku tidak pernah sembunyi. Kamu hanya sedang menutup mata, sedang teralihkan perhatian. Teruslah mencariku karena aku akan duduk menunggu. Pada sajadah panjang yang membentang dari langit hingga bumi.
Aku tidak pernah sembunyi, kamu hanya tidak berani. Tidak berani datang hanya untuk mengenalkan diri. Tidak apa-apa. Aku akan menunggu dengan buku-buku ditangan. Dan lembar-lembarnya adalah waktu yang telah aku habiskan.
Jangan pernah lelah mencariku, karena aku tidak pernah kemana-kemana. Kamu hanya perlu membuka diri, melihat dengan mata hati."
Rini ini adalah orang yang dulu mungkin sering kena marah oleh saya karena buku sakunya (maaf ya ayi, hehe), dia memiliki suara yang paling baik diantara kami, dialah orang yang punya kepekaan yang cukup tinggi diantara kami sehingga kadang sering menjadi penetralisir keadaan, hehe. Terima kasih ayi.
Dan suara adzan pun berkumandang. Alhamdulillah kami berbuka puasa dengan menikmati es teh manis.
Kami pun shalat dulu dan Nevi menjaga makanan. Gadis di lantai 2 dan Lelaki di lantai 3. Akhirnya saya dan Arya naik ke lantai 3, tapi petugas berkata mushola nya disatukan di lantai 2. Oke Pak.
Setiba di mushola, Arya terbelalak, wah ternyata mushola sekarang lebih keren tegasnya.
“Sekarang kita punya walikota yang keren dam, mushola nya pun ada perda nya. Luar biasa kan?”
“Iya mang, semoga semua pemimpin bisa sekeren dia ya J”
Akhirnya semuanya selesai shalat maghrib, kemudian masing-masing menikmati hidangan yang dipersembahkan oleh Igar, seseorang yang dua hari lagi ulang tahun. Yuk kita berdoa dulu buat Igar yang sedang milad:
“Allah,……..”
Di sela-sela makan tiba-tiba penyanyi café melantunkan lagu
“Kau membuatku merasakan indahnya jatuh cinta
Indahnya dicintai saat kau jadi milikku.”
Rini kemudian memulai kembali pembicaraan
“Dam, Arya kemarin udah curhat loh sama kita-kita tentang mantannya, Adam curhat juga dong.”
“Curhat mengenai apa? Saya mah high quality jomblo #eeeaaaaa”
“Eh, Nevi ko diem aja?”
“Oh iya doain Nevi ya dia lagi memperkuat doa.”
“Aamiin”, kata Nevi
Kami pun tertawa bahagia.
Nevi yang saya kenal adalah orang yang memiliki sifat keibuan, ia dikenal orang yang penyabar. Tinggal di pesantren Al-Muttaqin. Orang yang dijadikan tempat bersandar oleh teman-temannya dan junior-juniornya.
Ya sekarang dia mungkin sedang memperkuat doanya..
“Aku tinggal dibumi. Tapi, carilah aku di langit. Sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu. Kau tengadahkan tanganmu atau bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi.
Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku dilangit. Di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi. Mintalah aku yang berada di genggaman tangan-Nya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada d langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita. Mengubah garis yang tadinya neraka, menjadi surga.
Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi. Tapi kau bisa menemuiku di langit, meski bukan wujud kita yang bertemu. Melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasana-Nya. Temukan aku di langit, didalam doa-doa panjangmu. Didalam harapanmu.”
Dan akhirnya lagu yang diputar adalah…
“Happy birthday…Happy Birthday”
Masya Allah, semoga umurnya diberkahi ya Gar. J
Dan tiba-tiba Arya, salah satu yang paling tua diantara kami mendapat pesan dari seseorang. Ia ditanya mengenai perkara fiqih. Dan ia bingung sendiri, akhirnya kami pun menyarankan agar dia tak usah menjawab pesannya. Barangkali hanya modus belaka ya, hahaha.
Arya ini adalah orang yang paling pintar diantara kami, dia seorang yang perfeksionis, memiliki daya juang dan semangat yang tinggi. Tapi dibalik itu semua dia adalah salah seorang romantis. Haha. Dan dia adalah orang yang paling iseng yang pernah saya kenal. Dia pernah mengunci kamar hotel ketika saya ada di dalamnya (asem ente mang!). Ya, tapi sekarang dia adalah orang yang paling enak saya ajak ngobrol untuk hal-hal yang berbau Indonesia.
Tidak terasa, waktu memang tak pernah bisa diajak kompromi. Rasanya berat sekali memang meninggalkan tempat itu, entah kapan lagi kita bisa berkumpul bersama, mungkin kelak ketika kita berkumpul, sudah ada yang membawa pendampingnya masing-masing. Sekali-kali yuk kita bernostalgia di tempat Pak In-in dan Bu Maya.
Dan kita pun pulang. Saya dan Arya memutuskan untuk mengantar para gadis ke tempat masing-masing. Ya ini sudah malam, jadi ingat, dulu saya di telpon Bu Ita agar mengantar ananda nya pulang sampai rumah karena waktu yg sudah malam.hehe. Akhirnya kami mengantar hingga rumah sakit (Semoga cepat sembuh ya ayahnya Nevi) dan dilanjut ke DT kemudian pulang ke kos Arya.
"Hidup semakin kesini semakin berjalan cepat, dan saat kau tidak bisa berjalan secepat hidup ini atau lebih cepat darinya. Kau akan kalah.
Kini ketika satu persatu temanku mengakhiri kesendiriannya. Aku bertanya-tanya, orang seperti apakah yang sanggup berbagi hidup denganku.
Aku bukan siapa-siapa, bukan seseorang dengan segudang amal mulia, bukan seseorang dengan setumpuk gelar baik. Agamaku pun belum begitu baik. Aku tidak sebaik dirimu dalam hal ini. Tidak serutin kamu membaca kitab suci. Tidak sepandai kamu menjaga pergaulan. Sementara kamu, begitu santun menjaga diri. Aku tidak lemah lembut. Kata-kataku keras. Kira-kira apa yang akan membuatmu cinta?
Aku bertanya-tanya, seperti apakah orang yang mampu menerima apa yang aku miliki meski aku tidak memiliki apapun sebenarnya."
"Hidup semakin kesini semakin berjalan cepat, dan saat kau tidak bisa berjalan secepat hidup ini atau lebih cepat darinya. Kau akan kalah.
Kini ketika satu persatu temanku mengakhiri kesendiriannya. Aku bertanya-tanya, orang seperti apakah yang sanggup berbagi hidup denganku.
Aku bukan siapa-siapa, bukan seseorang dengan segudang amal mulia, bukan seseorang dengan setumpuk gelar baik. Agamaku pun belum begitu baik. Aku tidak sebaik dirimu dalam hal ini. Tidak serutin kamu membaca kitab suci. Tidak sepandai kamu menjaga pergaulan. Sementara kamu, begitu santun menjaga diri. Aku tidak lemah lembut. Kata-kataku keras. Kira-kira apa yang akan membuatmu cinta?
Aku bertanya-tanya, seperti apakah orang yang mampu menerima apa yang aku miliki meski aku tidak memiliki apapun sebenarnya."
Oh iya disini juga saya ingin mengamati bagaimana seorang Arya mengisi malam-malamnya. Masya Allah orang ini memang hebat banget, ketika waktu menunjukan setengah dua belas malam saya mencoba untuk berpura-pura tidur dan ia masih terjaga untuk berkarya hingga larut dan lampu pun ia padamkan. Saya bersyukur punya teman hebat seperti dia.
"Malam tak selalu bisa membuat orang tidur tenang. Takut oleh gelap malam, takut oleh kenangan. Habis malam hingga pagi hanya untuk memikirkan diri sendiri. Sibuk berasumsi, berusaha menghubungkan segala hal untuk membenarkan kesalahannya, membenarkan harapannya, membenarkan perasaannya."
"Malam tak selalu bisa membuat orang tidur tenang. Takut oleh gelap malam, takut oleh kenangan. Habis malam hingga pagi hanya untuk memikirkan diri sendiri. Sibuk berasumsi, berusaha menghubungkan segala hal untuk membenarkan kesalahannya, membenarkan harapannya, membenarkan perasaannya."
Subuh pun berkumandang kita pergi ke masjid. Melanjutkan doa yang tidak pernah selesai. Tiba di kos kami melanjutkan dengan tilawah. Saya pun bersiap-siap untuk pulang. Dan Arya mengantarkan saya ke Terminal. Dan saya pamit ke semuanya.
Terimakasih sahabat.
“Sahabatku Tercinta
Terimalah laguku
Hadirmu slalu memberi bahagia”
Salam.
Adam Raka Ekasara